Pernahkah Anda menemukan komponen tembaga atau kuningan yang terlihat bersih dan mengilap setelah proses machining, tetapi beberapa jam atau hari kemudian justru berubah warna menjadi gelap bahkan kehitaman?

Fenomena ini cukup sering ditemukan dalam industri metalworking, khususnya pada proses machining material non-ferrous seperti tembaga (copper) dan kuningan (brass).

Menariknya, perubahan warna tersebut tidak selalu terjadi ketika proses pemotongan berlangsung. Dalam beberapa kasus, komponen terlihat normal saat keluar dari mesin, tetapi mulai mengalami discoloration setelah dibersihkan atau disimpan.

Lantas, apakah cutting oil menjadi penyebab utamanya?

Reaksi Kimia di Balik Penghitaman Tembaga dan Kuningan

Tembaga dan kuningan termasuk kelompok yellow metals yang memiliki sensitivitas terhadap komponen kimia tertentu dalam cutting oil, khususnya senyawa sulfur yang bersifat reaktif.

Pada tembaga, perubahan warna menjadi kehitaman dapat disebabkan oleh pembentukan copper oxide (CuO) maupun copper sulfide (CuS atau Cu₂S) pada permukaan logam.

Sebagai contoh, reaksi oksidasi tembaga dapat menghasilkan copper(II) oxide yang berwarna hitam:

2Cu + O₂ → 2CuO

Selain oksidasi, penggunaan sulfur-based Extreme Pressure (EP) additive pada cutting oil juga perlu diperhatikan.

Aditif EP umumnya digunakan untuk meningkatkan kemampuan pelumasan pada kondisi tekanan dan temperatur tinggi. Namun, jenis sulfur tertentu memiliki reaktivitas yang tinggi terhadap tembaga sehingga berpotensi membentuk lapisan sulfida berwarna gelap.

Hal serupa dapat terjadi pada kuningan karena material ini merupakan paduan tembaga dan seng (Cu-Zn). Kandungan tembaganya tetap memungkinkan terjadinya reaksi dengan sulfur maupun oksigen.

Artinya, cutting oil yang memberikan performa sangat baik pada baja belum tentu memiliki kompatibilitas yang sama terhadap tembaga dan kuningan.


Mengapa Penghitaman Terjadi Setelah Machining?

Salah satu faktor yang sering terabaikan adalah residu cutting oil yang tertinggal pada permukaan komponen setelah proses machining.

Residu tersebut dapat mengandung aditif pelumas, partikel logam halus, maupun kontaminan yang terbawa selama proses pemotongan.

Apabila komponen disimpan tanpa proses pembersihan yang memadai, residu cutting oil dapat tetap berkontak dengan permukaan logam dalam waktu lama.

Ketika kondisi tersebut dikombinasikan dengan kelembapan, temperatur, atau kontaminasi tertentu, risiko perubahan warna dapat meningkat.

Inilah sebabnya komponen yang awalnya terlihat bersih dapat mulai menghitam beberapa jam atau beberapa hari kemudian.

Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua kasus penghitaman disebabkan oleh cutting oil. Kondisi penyimpanan, bahan pembersih, serta kontaminasi lingkungan juga dapat berkontribusi terhadap fenomena ini.

Bagaimana Cara Mencegahnya?

Pencegahan discoloration dimulai dari pemilihan cutting oil yang memiliki kompatibilitas kimia terhadap yellow metal.

Untuk machining tembaga dan kuningan, penggunaan sulfur-based EP additive dengan karakteristik non-staining atau reaktivitas rendah terhadap tembaga dapat membantu mengurangi risiko perubahan warna. Selain itu, penggunaan copper corrosion inhibitor atau metal deactivator dalam formulasi cutting oil dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap reaksi kimia pada permukaan material.

Namun, dari sisi pengguna cutting oil, pemilihan produk yang tepat saja belum cukup.

Kita juga perlu memperhatikan kondisi aktual selama proses machining, seperti temperatur pemotongan, kebersihan cutting oil, serta kemungkinan kontaminasi dari pelumas lain maupun bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi.

Setelah machining selesai, sebaiknya komponen tidak dibiarkan terlalu lama dalam kondisi basah oleh residu cutting oil, terutama jika akan disimpan atau dikemas. Proses cleaning dan drying yang sesuai menjadi langkah penting untuk meminimalkan reaksi kimia lanjutan pada permukaan material.

Cutting Oil Bukan Hanya Tentang Lubricity

Dalam industri metalworking, performa cutting oil sering dinilai berdasarkan kemampuan memperpanjang umur cutting tool, mengurangi gesekan, dan menghasilkan surface finish yang baik.

Namun, untuk proses machining tembaga dan kuningan, terdapat satu parameter lain yang tidak kalah penting, yaitu chemical compatibility terhadap material yang diproses.

Karena pada akhirnya, kualitas machining bukan hanya ditentukan oleh seberapa baik material dapat dipotong, tetapi juga seberapa baik kualitas permukaannya dapat dipertahankan setelah proses selesai.

Cutting oil yang tepat tidak hanya melindungi cutting tool, tetapi juga menjaga kualitas permukaan komponen hingga sampai ke tangan customer.

#MetalworkingFluid #CuttingOil #CopperStaining #BrassStaining #YellowMetal #Machining #IndustrialLubricants #Metalworking #Manufacturing #Tribology
#WhizolOilExpert #LiqtroOilSolution

Notulen : Anastasia Levina
Email : sales@whizol.com
Instagram : @whizol
Facebook : Whizol
LinkedIn: Utama Karya Niaga


Share this Article